BENCANA

Perbaikan 2.066 Ruas Jalan Terdampak Bencana Sumatera Rampung 2027

Jakarta – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mencatat 2.066 ruas jalan daerah yang terdampak bencana di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. Per 31 Desember 2025, baru 1.883 ruas jalan yang fungsional usai dilanda bencana akhir November tahun lalu.
Menteri PU, Dody Hanggodo mengatakan jalan di tiga provinsi tersebut ditargetkan kembali fungsional pada Agustus 2027. Saat ini, pemulihan jalan di tiga provinsi tersebut sudah mencapai 91%.

“Kami saat ini sudah menyelesaikan kurang lebih 91% dan target besarnya adalah kita selesai semua untuk jalan itu, di Agustus 2027,” ungkap Dody dalam rapat kerja (raker) bersama Komisi V DPR RI di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (27/1/2026).

Dody juga mengaku kewalahan memperbaiki jembatan. Hingga saat ini, Kementerian PU mencatat sekitar 779 jembatan daerah yang terdampak bencana.

“Untuk jembatan kita memang agak sangat tertinggal karena ada jembatan-jembatan di daerah-daerah yang sangat-sangat terpencil,” jelasnya.

Dody menambahkan, Kementerian PU baru menangani 337 jembatan atau sekitar 43%. Ia menargetkan pemulihan seluruh jembatan di Aceh dan Sumatera pada Oktober 2028.

“Kita bisa menyelesaikan semua di Oktober 2028. Ini target paling lama,” pungkasnya.

selengkapnya https://finance.detik.com/infrastruktur/d-8327576/perbaikan-2-066-ruas-jalan-terdampak-bencana-sumatera-rampung-2027.

“Di awal 2026 sudah terjadi 140 bencana alam dan sebagian besar merupakan bencana hidrometeorologi. Ancaman ini dihadapi hampir di seluruh provinsi di Indonesia,” kata Pangarso dalam Forum Diskusi Denpasar 12, Rabu (21/1)

Jakarta – Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut AL Laksamana Pertama TNI Tunggul mengatakan pihaknya menerjunkan personel Marinir, anjing pelacak, hingga drone untuk mencari 19 personel Marinir yang jadi korban longsor di Cisarua, Bandung Barat. Sebanyak 200 marinir diturunkan dalam pencarian hari ini.
“Kami menerjunkan sebanyak 200 personel Marinir, dengan menggunakan teknologi drone, termal, dan anjing pelacak,” kata Tunggul dilansir Antara, Selasa (27/1/2026).

Tunggul mewakili jajaran TNI AL menyampaikan belasungkawa atas gugurnya empat prajurit korban longsor yang sebelumnya sudah ditemukan. Dia memastikan TNI AL akan terus mencari prajurit lain yang menjadi korban longsor dan memenuhi seluruh hak-hak keluarga prajurit yang gugur.

“Kami memastikan bahwa seluruh hak almarhum dan keluarga akan dipenuhi sesuai dengan ketentuan yang berlaku, serta santunan maupun pendampingan akan terus diberikan,” jelas Tunggul.

Sebelumnya Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Muhammad Ali memastikan 23 personel Marinir menjadi korban bencana tanah longsor yang terjadi di Cisarua, Bandung Barat, Jawa Barat.

“Terdapat 23 anggota Marinir yang tertimbun, longsor. Saat ini sudah diketemukan baru 4 personel dalam kondisi meninggal dunia dan yang lainnya belum ditemukan,” kata Laksamana Ali saat ditemui awak media di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (26/1).

Ali mengatakan prajurit Marinir itu berada di lokasi tersebut guna menggelar latihan untuk persiapan penugasan pengamanan wilayah perbatasan Indonesia dan Papua Nugini. Saat para personel sedang melakukan latihan, lokasi tersebut kebetulan sedang diguyur hujan selama dua hari.

“Mungkin itu yang mengakibatkan terjadinya longsor dan itu menimpa penduduk satu desa dan kebetulan ada prajurit kita yang sedang berlatih di sana,” katanya.

Ali memastikan jajaran TNI AL terus melakukan prajurit lainnya yang menjadi korban tanah longsor di Cisarua. Pihaknya telah mengerahkan alat berat dan drone untuk mempercepat proses evakuasi korban.

selengkapnya https://news.detik.com/berita/d-8326935/200-marinir-hingga-drone-dikerahkan-cari-anggota-tni-al-korban-longsor-cisarua.

Banjir Subang Belum Surut, Warga Mengungsi di Bawah Jembatan

Subang – Banjir yang melanda Kabupaten Subang hingga Senin (26/01/2026) malam belum kunjung surut, warga terdampak banjir terpaksa bertahan di sejumlah tempat pengungsian, salah satunya di bawah jembatan Layang Jalur Pantura Subang.
Ratusan korban banjir memenuhi area bawah jembatan layang dengan penuh sesak, tikar berjejer dengan tumpukkam baju yang dibawa. Selain orang dewasa, anak-anak dan lansia pun turut tidur di bawah jembatan layang itu.

Dodi salah satu pengungsi, ia menyebutkan belum bisa kembali ke rumah lantaran rumahnya masih terendam dengan ketinggian air mencapai 1 meter. Ia dan keluarga sudah berada di bawah jembatan untuk mengungsi sejak pagi.

“Enggak bisa pulang karena airnya (banjir) belum surut, jadi bertahan di sini sejak pagi,” ujar Dodi diteumi di bawah jembatan bersama warga lain, Senin (26/01/20206).

Dodi hanya membawa pakaian seadanya karena belum sempat membawa harta bendanya, jangankan bantal, kasur pun ia tidak membawa, ia dan keluarga tidar hanya beralaskan tikar tipis tanpa selimut.

“Ya ini aja buat tidur tikar, enggak bawa kasur susah. Paling pake baju apa aja bantal atau selimutnya,” pungkasnya.

Sementara itu, Kapolres AKBP Dony Eko Wicaksono dan forkopimda Kabupaten Subang turun langsung memantau kondisi para pengungsi di bawah jembatan layang, ia juga memberikan bantuan 1.000 kantong beras SPHP, dan 1.000 dus mi instan kepada masyarakat Pamanukan dan sekitarnya yang terdampak bencana banjir.

“Bantuan disalurkan langsung kepada warga yang mengungsi di bawah fly over Pamanukan serta di Masjid Jami Hidayatul Jariyah, Dusun Kedung Gede, Desa Mulyasari, Kecamatan Pamanukan,” ujar Dony.

Dony menegaskan Polri akan terus hadir di tengah masyarakat, khususnya dalam situasi darurat dan bencana alam, sebagai wujud nyata pengabdian kepada masyarakat. “Kegiatan peninjauan dan pemberian bantuan berjalan dengan aman, tertib, dan kondusif, serta mendapat apresiasi dari masyarakat terdampak,” imbuhnya.

selengkapnya https://www.detik.com/jabar/berita/d-8326686/banjir-subang-belum-surut-warga-mengungsi-di-bawah-jembatan.

Korban Bencana Sumatera Bisa Dapat Bantuan Rp 30 Juta hingga Ganti Rumah Baru

Jakarta – Korban bencana di utara Sumatera bisa mendapatkan bantuan rumah hingga Rp 30 juta bahkan mendapat rumah baru. Ini tergantung dari tingkat kerusakan rumah.
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengatakan bantuan rumah ini berdasarkan tingkat kerusakan, yaitu rusak ringan, sedang, dan berat. Untuk rumah yang rusak ringan akan mendapat bantuan Rp 15 juta dan yang rusak sedang dapat bantuan Rp 30 juta.

Tito menjabarkan, dari total 60.000 unit rumah rusak ringan dan sedang yang dilaporkan pemerintah daerah, untuk rumah yang rusak ringan dan sedang sudah terverifikasi ada sekitar 56.000 unit. Sementara untuk 5.000 unit rumah lainnya masih belum terverifikasi.

Sementara itu, untuk rumah yang rusak berat atau rumahnya hilang, pemiliknya akan diberikan pilihan untuk tinggal di hunian sementara atau sewa rumah yang nantinya akan dibantu biayanya oleh Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB).

“Nah ini mereka punya pilihan, untuk masuk ke hunian sementara yang disiapkan pemerintah atau pihak-pihak lain atau mereka mau kos sewa rumah atau tinggal di rumah keluarga, nanti akan diberikan anggaran oleh BNPB namanya DTH, Dana Tunggu Hunian,” ungkap Tito kepada wartawan di Kantor Kemendagri, Jakarta, Senin (26/1/2026).

Tito melanjutkan, pemerintah daerah didampingi oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) akan mendata para korban yang rumahnya rusak berat. Nantinya ada dua skema yang akan diberikan, pertama apakah mereka ingin dibangunkan rumah oleh BNPB di tanah miliknya di lokasi semula atau tempat lainnya.

Skema kedua, ikut tinggal bersama korban lainnya di kompleks hunian tetap yang akan dibangun oleh Kementerian PKP. Nantinya dalam kompleks itu akan ada puluhan hingga ratusan hunian.

“Saya memberikan waktu untuk pendataan itu sampai dengan hari Senin depan,” ujar Tito.

Selain bantuan perumahan, pemerintah juga akan memberikan bantuan perorangan. Bantuan perorangan ini terdiri dari uang makan Rp 15 ribu per orang per hari, bantuan perabotan Rp 3 juta, dan bantuan stimulus ekonomi Rp 5 juta.

“Ini diserahkan kepada para bupati wali kota yang menentukan apakah orang itu layak mendapatkan bantuan stimulan. Karena di lapangan casenya beda-beda, ada yang rumahnya nggak rusak sama sekali tapi sawahnya habis. Otomatis bantuan stimulan ekonomi,” jelasnya.

Apabila data rumah rusak berat, tanahnya sudah tersedia, pembangunan hunian tetap bisa dilakukan minggu depan.

Di sisi lain, Menteri PKP Maruarar Sirait (Ara) dalam pembangunan hunian tetap ada beberapa hal yang harus diperhatikan yang pertama harus aman secara hukum, kedua harus cek daerah yang akan dibangun hunian tetap apakah rawan bencana atau tidak. Ketiga, cek ekosistem hunian di sana apakah dekat dengan pasar, rumah sakit, sekolah, dan lainnya.

“Karena ini memindahkan bukan hanya membangun rumah, membangun jalan, tapi kehidupannya. Kita juga tidak boleh nanti membangun rumah ternyata kosong. Kenapa? Jauh dari tempat kehidupannya. Nggak boleh begitu. Jadi kita mesti benar-benar cek betul dan warganya harus ditanya, harus diajak bicara,” kata Ara.

selengkapnya https://www.detik.com/properti/berita/d-8326383/korban-bencana-sumatera-bisa-dapat-bantuan-rp-30-juta-hingga-ganti-rumah-baru.

Pemkab Serang Pastikan Maksimal Bantu Korban Bencana Alam

Jakarta – Pemerintah Kabupaten Serang terus berupaya untuk membantu masyarakat yang terdampak bencana alam, baik itu bencana banjir, longsor, maupun bencana alam lainnya. Hal itu sejalan dengan arahan dari Bupati Serang Ratu Rachmatuzakiyah dan Wakilnya Muhammad Najib Hamas.
Setelah mendapat instruksi, seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemkab Serang turun langsung bahu membahu membantu warga yang terdampak bencana alam. Tidak hanya memberikan instruksi, bupati dan wakilnya juga terlebih dahulu turun langsung menemui warga di beberapa titik lokasi bencana.

Ratu Rachmatuzakiyah turun di beberapa lokasi bencana seperti diantaranya di Perumahan Bumi Ciruas Permai (BCP), Kecamatan Ciruas, di Desa Sasasahan, Kecamatan Waringinkurung, di Kecamatan Padarincang baik di lokasi banjir maupun seperti di Desa Rancasanggal dan di lokasi longsor di Desa Kadubeureum.

Keduanya bersama para OPD tidak hanya turun menemui warga korban bencana alam, namun juga memberikan bantuan berupa sembako, peralatan tidur, obat-obatan, dan juga menurunkan pompa air dan alat berat. Untuk bantuan sendiri berasal dari partisipasi seluruh ASN yang ada di OPD-OPD dari BUMD, dan juga dari perusahaan-perusahaan.

Para OPD juga turun ke lokasi bencana tidak hanya pada saat hari kerja, namun juga pada hari libur Sabtu dan Minggu, bahkan ada yang turun pada malam hari. Sementara itu, para camat standby di lokasi bencana selama 24 jam terutama yang di wilayahnya ada warga yang mengungsi akibat terdampak bencana alam.

Respon cepat yang diberikan Bupati Serang dan wakilnya serta para kepala OPD tersebut sebagai bentuk kehadiran dan kepedulian nyata Pemkab Serang terhadap warganya yang terkena musibah banjir, longsor, dan cuaca ekstrem. Sementara itu, Pemkab Serang bakal terus berupaya untuk mencarikan solusi atas permasalahan yang dihadapi warganya tersebut.

“Menurut informasi setiap tahun banjir terjadi di wilayah ini (BCP-red), namun kali ini atau bulan ini adalah banjir yang tertinggi. Bahkan sampai ada yang 1,5 meter atau sepinggang orang dewasa,” ujar Zakiyah dalam keterangan tertulis, Senin (26/1/2026).

Dia mengaku prihatin atas terjadinya musibah banjir di Perumahan BCP dan di beberapa wilayah di Kabupaten Serang, untuk itu pihaknya mengerahkan personel BPBD dan OPD lain untuk turun membantu warga yang sedang kesulitan.

“Penanganan bencana ini tidak bisa parsial, misalnya kemarin kita sudah normalisasi sungai di sini, ternyata wilayah yang lain banjir,” tuturnya.

Zakiyah terus berkoordinasi dengan stakeholder terkait, seperti Pemerintah Provinsi Banten, Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau Ciujung Cidurian (BBWSC3), pemerintah pusat, dan instansi lain untuk bersama-sama mencari solusi penanganan bencana alam di Kabupaten Serang. “Kita duduk bersama untuk mencari solusi terbaik,” jelasnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Serang Muhammad Najib Hamas saat meninjau korban longsor Gunung Kaupas di Kampung Cibodas, Desa Kadubeureum, Kecamatan Padarincang mengatakan, Pemkab Serang bekerja sama dengan TNI-Polri gerak cepat mengevakuasi warga ke lokasi pengungsian yang lebih aman.

“Saya hadir ke lokasi bencana longsor ini untuk memastikan kebutuhan warga bisa terpenuhi dengan baik. Alhamdulillah untuk kebutuhan pangan bisa diterkondisikan karena di tempat pengungsian juga dibuka dapur umum. Mohon doanya untuk keselamatan warga yang terdampak bencana alam di sejumlah wilayah di Kabupaten Serang,” tutupnya.

selengkapnya https://news.detik.com/berita/d-8326699/pemkab-serang-pastikan-maksimal-bantu-korban-bencana-alam.